Minggu, 14 Desember 2014

Trip Aceh - Sabang - Medan Part II

Oke, masih di hari sama, akhirnya kami berenam siap untuk memulai petualangan menjelajahi Aceh di hari pertama. Karena semuanya kelaparan dan semuanya sangat bernafsu untuk makan mi Aceh maka kami pun memutuskan untuk segera menuju TKP. Dan pilihan kami untuk makan mi Aceh adalah di warung makan Mie Turis yang beralamat di Jl. Tengku Nyak Arif. Mie Turis ini berada di deretan toko-toko sehingga harus sedikit jeli untuk menemukannya.  




Setelah memarkir mobil, kami pun segera duduk dan memesan makanan kami masing-masing. Saya memilih untuk memesan mi goreng spesial. Ada beberapa tipe sih, cuma saya agak lupa, seingat saya ada mi biasa dan mi spesial, itu masih dibagi lagi menjadi mi goreng, mi goreng basah, mi rebus. Teman-teman yang lain memilih mi rebus dan mi goreng basah, hanya saya sendiri yang memilih mi goreng saja. Pesanan kami pun dimasak, sementara menunggu makanan kami datang, salah satu teman saya ada yang sibuk memotret-motret dapur Mie Turis ini. Ternyata yang paling cepat datang pesanannya adalah mi goreng spesial, yang merupakan pesanan saya. Yuhuuu akhirnya saya memulai untuk memakan duluan hehe hmmm enak, bumbunya meresap masuk ke dalam mi nya, pedas pedas lezat. Makanan saya sudah habis setengahnya, pesanan teman-teman yang lain belum datang juga uhmmm dan teman-teman saya sudah sangat kelaparan haha sabar ya. Akhirnya semua pesanan datang, mi rebus sudah pasti kuahnya banyak, mi goreng basah juga berkuah hanya tidak sebanyak mi rebus. Kami saling mencicipi makanan satu dengan yang lain, dan semua sepakat paling enak adalah mi goreng, karena bumbunya benar-benar meresap ke dalam mi nya. Mie Aceh cenderung pedas, tapi enak, ga ada yang seenak Mie Aceh di Aceh haha. Untuk minumnya saya memesan teh tawar hangat, dan tehnya juga enak rasanya, lain dengan teh-teh yang dijual di supermaket. Saya mengeluarkan uang Rp 23.000,- untuk membayar pesanan saya.

Setelah semua kenyang makan, kami melanjutkan perjalanan kami. Tujuan selanjutnya adalah Wisata Tsunami Boat di atas Rumah. Ini merupakan salah satu kejadian waktu tsunami Aceh yang dilestarikan. Jadi kapal ini terdampar di atas rumah penduduk, dan kapal ini berhasil menyelamatkan kurang lebih 50 nyawa penduduk, kalau tidak salah ya karena agak lupa. Sekitar pukul 18.00, salah seorang penduduk setempat meminta kami untuk menghentikan kegiatan potret memotret, karena sudah sore dan sudah tutup, maka kami pun permisi. Tidak ada biaya masuk untuk mengunjungi wisata ini, hanya tersedia kotak donasi sukarela.


Karena sudah menjelang mahgrib, kami memutuskan untuk mengunjungi masjid terbesar di Aceh, Masjid Raya Baiturrahman, sekaligus mengantarkan teman-teman yang ingin menjalankan sholat disana. Karena kami tiba ketika hari sudah gelap, maka masjid yang megah ini menjadi begitu indah dengan lampu-lampu yang menyala. Luar biasa. Damai dan tenang :) Hasil fotonya saja cocok untuk jadi kartu pos haha


Jumat, 12 Desember 2014

Trip Aceh - Sabang - Medan Part I

Berawal dari rasa bosan rutinitas dan juga racun dari teman-teman yang memang berencana berpetualang ke Aceh, maka munculah ide untuk bergabung dengan mereka. Mengingat keinginan untuk ikut serta ini sangat mendadak, otomatis hebohlah hunting tiket Jakarta - Aceh. Pertamanya berniat untuk membeli tiket maskapai paling keren di Indonesia yaitu Garuda Indonesia, awalnya harga masih bisa saya toleri, namun mendadak dalam waktu 1-2 hari harga mendadak naik pada batas yang tidak bisa saya toleri. Omigot, akhirnya ngelirik maskapai paling juara delay Lion Air, sebelumnya sempet lirik Air Asia juga. Tapi akhirnya ya sudah saya putuskan saja naik Lion Air paling pagi, dengan pertimbangan, jika delay, okelah saya masih bisa tiba di tujuan siang atau sore. Akhirnya saya berdua dengan teman saya membeli tiket Lion Air, sementara pulangnya kami memutuskan untuk ikut rombongan dengan maskapai Air Asia. Untuk menyingkat basa-basi, mari saya ringkas saja bagaimana perjalanan saya dan teman-teman selama beberapa hari itu.

Kamis, 4 Desember 2014
  • Penerbangan dengan Lion Air JT - 304 dari Jakarta (Soekarno Hatta/CGK International Airport) menuju Banda Aceh (Sultan Iskandar Muda/BTJ International Airport) dijadwalkan berangkat pada pukul 08:45 dan tiba di tujuan 11:35. Harga untuk penerbangan dengan Lion Air ini Rp 981.000,- yang dibeli melalui traveloka.com.
  • Penerbangan yang termasuk pagi, untuk saya yang suka molor. Saya terbangun pada hari H tepat pukul 6 pagi, langsung tergopoh-gopoh mandi dan persiapan. Untungnya sudah sempat packing beberapa hari sebelumnya, jadi hanya sedikit merapikan barang-barang
  • Tepat pukul 7 saya siap dan berangkat, masih sempat mampir untuk membeli sarapan sebagai persiapan penerbangan Lion Air yang tidak ada makanan dan minuman, mengingat saya suka kelaparan jika sedang terbang. Saya membeli nasi, tumis brokoli dan telur dadar seharga Rp 9.000,-.
  • Kira-kira pukul 7.30 saya tiba di bandara, cepat kan, karena memang bandara letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya hehe saya menggunakan moda transportasi taksi Blue Bird dengan ongkos Rp85.000,-. Sebenarnya ada damri di dekat tempat tinggal saya dengan tarif Rp35.000,- sekali berangkat, tapi mengingat saya sudah diburu waktu, dan damri di dekat tempat saya itu berangkatnya tidak tiap jam, sehingga tidak bisa menjadi moda transportasi yang bisa diandalkan di waktu yang mendesak. Karena menggunakan taksi, supaya cepat maka saya memilih untuk masuk tol, dengan biaya tol Rp 14.000,-. Tarif tol ini naik melulu :(.
  • Lion Air berangkat dari Terminal 1B, dan begitu saya masuk ke dalam terminal, terkejutlah saya karena antrian cek in penumpang Lion Air ini bagaikan antrian sembako. Omigot saya agak panik, bagaimana kalau saya tidak keangkut? Tapi syukurlah, petugas Lion Air ini berinisiatif memanggil para penumpang sesuai dengan urutan penerbangan, jadi saya bisa mendesak menyela antrian, ketika tujuan penerbangan saya dipanggil. Lega. Karena saya naik Lion Air, maka saya harus membayar airport tax sebesar Rp40.000,- sebelum masuk ruang tunggu.
  • Akhirnya berhasilah saya masuk ke ruang tunggu terminal 1B, dan bertemu dengan 2 teman yang satu penerbangan dengan saya. Dan salah 1 teman saya tersebut membawakan saya sarapan nasi goreng dan telur dadar masakan ibunya haha teman yang luar biasa, tahu saya tidak punya kompor, berinisiatif membawakan bekal untuk saya. Menyentuh haha kumat. Saya jadi punya 2 bekal nasi :)). 
  • Ternyata oh ternyata, seperti yang sudah diantisipasi, Lion Air mengalami delay. Ya sudah akhirnya saya makan saja nasi goreng yang dibawakan oleh teman saya. Setelah makan, otomatis saya haus, berhubung bekal yang saya bawa hanya kopi dan cemilan tanpa air mineral, maka saya pun permisi untuk membeli air mineral di luar ruang tunggu. Saya membeli aqua dan teh botol dengan total harga Rp 19.000,-, saya membayar dengan uang Rp 20.000,- kembali Rp 1.000,- diganti dengan permen mentos 3 biji. Errrr.
  • Akhirnya pesawat saya berangkat lepas landas pada pukul 9.45. Selama di pesawat, saya memakan bekal-bekal saya hahaha dan serunya di pesawat ini ada pramugara nan ganteng. Senangnya hahaha memang sih kalau diamati, pramugara pramugari pesawat seperti Lion Air, Sriwijaya, Air Asia dan lain-lain biasanya masih berusia muda dan berpenampilan seksi, lain dengan pramugara pramugari Garuda Indonesia yang biasanya lebih berumur dan berpakaian lebih rapi, mungkin mengambil profesionalismenya kali ya.
  • Pukul 12.30 pesawat mendarat di Aceh, berhubung saya dan teman-teman tidak ada yang memasukan bagasi, maka kami pun tidak antri bagasi tapi antri toilet haha karena kami masih harus menunggu teman-teman kami yang lain, maka kami pun memutuskan untuk nongkrong di kafe yang terletak berderet di luar pintu masuk bandara. Tidak banyak cafe disana, pilihan kami jatuh pada Kafe Serambi yang terletak di paling ujung.
  • Daripada bosan, akhirnya saya iseng untuk membeli makanan di Kafe Serambi. Saya memesan bakso malang, untuk minum saya ingin membeli jus alpukat, tapi tidak tersedia alpukatnya errrr akhirnya saya memesan yang gampang saja dan pasti ada es teh manis. Tak berapa lama pesanan datang, es teh manis rasanya standar saja ya, gitu-gitu aja haha giliran baksonya yang dicoba, ya ampun ini bakso asin sekali kuahnya! Langsung deh kasih sambal, kecap, saos buat menetralisir asinnya, rasanya segera jadi ga karu-karuan. Tapi daripada sayang, akhirnya dimakan saja pelan-pelan, habis juga kok hehe
  • Pukul 13.00 datang dua orang teman kami dengan penerbangan Air Asia dari Jakarta - Kuala Lumpur - Aceh. Demi mendapatkan tiket murah, mereka memilih untuk transit di Kuala Lumpur terlebih dahulu, ya begitulah nasib penerbangan di Indonesia, lebih murah ke luar negeri daripada dalam negeri. Kami masih menunggu satu lagi teman kami yang dijadwalkan tiba pukul 15.00 dengan maskapai Garuda Indonesia. Selama menunggu, kami asyik berwifi ria yang disediakan gratis oleh bandara. Lumayan sih walau koneksinya putus nyambung.
  • Pukul 15.30 teman kami tiba, akhirnya. Saya pun membayar bakso saya seharga Rp 25.000,- es teh manis Rp 15.000,- dan saya membeli aqua dengan harga Rp 8.000,-
  • Kami pun siap untuk menjelajah Aceh sejenak, kebetulan ada teman yang bekerja di Aceh dan mempunyai langganan mobil, jadi kami sekalian menggunakan jasa mobil langganan dengan kontak person Bapak Buyung (085260168685). Kami mulai perjalanan kami pada pukul 16.00. 
Bersambung..