Sabtu, 30 Agustus 2014

Yuks Mari ke Kantor


Entahlah, akhir-akhir ini rasanya semakin malas saja untuk ke kantor. Sudah hampir 6 tahun lamanya saya bekerja di kantor saya sekarang. Banyak yang menginginkan pekerjaan saya sekarang. tapi makin kesini saya makin malas bekerja, tak terhitung berapa kali saya bolos (upss jangan ditiru). Saya bukannya malas bekerja, weits jangan salah, saya ini termasuk workaholic lho (hoeks), saya hanya malas ke kantor. Seandainya pekerjaan kantor bisa saya kerjakan di rumah, saya  pilih bekerja saja dari rumah. Namun sayang, kantor saya ada lokasinya ada jam kerjanya, mau tak mau saya harus tetap ke kantor. Salah satu alasan kemalasan saya ini bisa jadi karena saya merasa pekerjaan saya sekarang ini makin lama makin tak ada tantangannya saja. Belum lagi peraturan-peraturan kantor yang makin aneh saja, atau mungkin saya yang semakin aneh, entahlah, yang pasti saya semakin sering membolos saja. Semakin seringnya saya membolos, maka semakin sering pula hati nurani saya ini menjerit-njerit (weitss masih punya hati nih ceritanya). Perasaan bersalah bertubi-tubi mendera saya (melow bingits). Oleh karena itu, malam ini, malam minggu nih, malam habis asyik-asyik (apa sih), saya mencoba merenung dan merangkum, apa saja motivasi yang dapat membuat saya semangat untuk bekerja, saya tidak maulah makan gaji buta melulu. Jadi inilah beberapa motivasi saya :
  1. Jika kamu mulai malas ke kantor untuk bekerja, ingatlah mereka di luar sana yang kepontal-pontal mencari pekerjaan.
  2. Jika kamu mulai malas ke kantor untuk bekerja, maka bayangkanlah seandainya dirimu kehilangan pekerjaan sekarang. Apakah kamu yakin akan mendapatkan pekerjaan baru dengan mudah, dengan gaji yang seperti sekarang kamu dapatkan? Jika kamu yakin akan bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji yang bagus, maka kamu sudah siap untuk melepas pekerjaan sekarang, jika tidak maka buanglah rasa malas bekerja itu.
  3. Jika kamu mulai malas ke kantor untuk bekerja, apakah kamu siap untuk kehilangan pekerjaan sekarang? Apakah kamu siap menganggur? Atau sudah yakinkah kamu bahwa kamu akan baik-baik saja jika kamu kehilangan pekerjaan ini? Jika tidak maka buanglah rasa malas itu.
  4. Jika kamu malas ke kantor untuk bekerja, ingatlah akan tagihan-tagihan yang harus kamu bayar, terutama jika kamu doyan belanja dengan kartu kredit, atau tagihan listrik yang kian naik tanpa menurun, sama halnya dengan tagihan air, masak mau ga mandi karena air tak keluar dari kran. Atau jika kamu masih kost atau mengontrak atau menyewa, ingatlah akan kewajiban-kewajiban itu semua. Dengan bekerja maka kamu akan digaji, dan gaji itulah yang akan kamu gunakan untuk membayar semua kewajiban itu. Jika kamu malas, maka bayangkanlah kamu akan kehilangan pekerjaan dan otomatis kehilangan pemasukan, sementara kewajiban-kewajibanmu tetap menanti untuk dibayar. Ingatlah ini, terutama ingatlah tagihan kartu kreditmu miss or mister shopping.
  5. Jika kamu malas ke kantor untuk bekerja, ingatlah bahwa kamu mendapatkan gaji dari pekerjaan sekarang. Ingatlah apa yang bisa kamu lakukan dengan gajimu itu. Mungkin kamu telah beli mobil, beli rumah, apartemen atau apapun itu. Mungkin kamu juga menggunakan gajimu untuk hobimu. Jika kamu suka modifikasi mobil, mungkin kamu telah banyak menggunakan gajimu untuk beli aksesoris mobil. Jika kamu suka travelling, mungkin tiap tahunnya kamu sudah menyisihkan sebagian dari gajimu itu untuk travelling di tahun berikutnya. Bayangkanlah jika nantinya kamu tak punya gaji, tak ada pemasukan, apa yang akan kamu gunakan untuk membiayai hobi-hobimu? Karena itu terus pompa semangatmu, gunakan hobimu sebagai motivasi bekerjamu. Ini memang resiko mereka yang punya pekerjaaan bukan dari hobinya, tapi ini sekaligus menjadi motivasi tersendiri bagi kalian. Gunakan hobimu sebagai motivasimu.
  6. Nah, untuk kamu yang sudah punya rumah, mobil, apartemen, vila atau properti lainnya yang perlu bayar pajak, ingatlah darimana kamu akan membayar itu semua kalau kamu tidak punya pemasukan. Kecuali kamu mendapatkan pemasukan dari propertimu, jika tidak, maka lain cerita.
  7. Untuk kamu yang sudah berkeluarga, ingatlah mulut-mulut yang perlu diberi makan.
  8. Untuk kamu yang masih memiliki orang tua, mungkin kamu perlu mempertimbangkan bagaimana perasaan mereka jika nantinya kamu menganggur tak punya penghasilan tetap, dan pada akhirnya balik lagi kepada mereka, kecuali sepenuhnya kamu yakin bisa mandiri.
  9. Jika kemalasanmu ke kantor itu karena pekerjaan sekarang tidak menantang, buatlah tantangan sendiri dari pekerjaanmu itu. Belajarlah terus, dengan belajar maka kamu akan mendapatkan tantangan itu sendiri. Buatlah target setiap harinya untuk pekerjaan yang harus kamu selesaikan, tingkatkan terus targetmu itu, maka kamu pasti akan merasa tertantang.
  10. Jika kemalasanmu ke kantor itu karena mungkin situasi di kantormu itu tidak kondufsif, persaingan yang ketat, atau tidak ada persaingan sama sekali, atau kantormu tengah disorot karena adanya kasus, yang penting ingatkan diri sendiri untuk berhati-hati dan berada di jalur yang benar. Berusahalah selalu kritis terhadap setiap pekerjaan kita, jangan sampai kita terjebak atau terbawa arus.
  11. Jika pada akhirnya kantormu itu memang sangat tidak kondufsif dan memuakkan, dan kamu tidak tahu harus bagaimana lagi, coba ingatlah apa fasilitas yang bisa kamu dapatkan dari kantormu gratis. Mungkin kantormu punya koneksi internet super cepat tanpa batas, ingat dengan internet apapun bisa kamu lakukan, mulai dari facebook, twiter, situs berita, blog, bahkan kamu bisa berjualan online, jika kamu punya bakat jadi penjual. Atau mungkin kamu bisa menelpon sesuka hati dari kantormu kemana saja, mau ke rumah, ke sahabat, suami, istri, teman bahkan transaksi, manfaatkan saja itu fasilitas telepon. Atau lokasi kantormu yang dekat dengan mall, sehingga kamu bisa nge-mall dengan mudah. Atau dekat dengan warung makan enak. Atau apa saja, coba pikirkan apa kelebihan kantormu, dan jadikanlah itu motivasimu untuk semangat ke kantor. Yang pasti meskipun kamu bisa bebas internetan, telepon, ngemall dan lain-lain, kamu harus tetap ingat tanggung jawab pekerjaanmu ya, jangan sampai kamu dipecat juga karena kebanyakan internet, telepon, ngemall atau yang lain-lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
  12. Jika kamu malas ke kantor, karena teman-teman kantormu ga asyik, bos-bos yang aneh, pastinya tidak semua teman kantormu menyebalkan kan. Bergaulah saja dengan mereka yang asyik, pastilah ada mereka teman di kantor yang cocok denganmu barang cuma 1 atau 2 orang. Jalin persahabatan dengan mereka, bisa makan siang bareng, ngopi bareng, chatting atau apapun itu yang kalian suka, sehingga nantinya kamu akan punya semangat ke kantor, bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan. Bersikaplah profesional dengan mereka yang mungkin menurutmu tidak asyik, profesional dalam pekerjaan tentunya.
  13. Ingatlah bahwa setiap kamu membolos, jika kamu punya hati nurani, pastinya hati nurani kamu akan menjerit-jerit, dengarkan hati nuranimu, kamu pasti tidak mau dong setiap hari didera perasaan bersalah karena membolos. Yuks semangat yuks ke kantor.
  14. Ingatlah untuk tidak makan gaji buta, kalau kamu membolos tapi kamu masih tetap terima gaji, sudah pasti kamu terima gaji buta dong. Nah ikhlas tidak kamu makan gaji buat, kalau kamu tidak ikhlas maka mari semangat ke kantor.
  15. Jika kamu malas ke kantor, karena lalu lintas Jakarta yang aduhai, maka ingatlah dengan naik transportasi umum, kamu akan membakar kalori lebih banyak daripada menggunakan kendaraan pribadi. Kalori banyak terbakar, badan langsing di depan mata donk. Dengan naik transportasi umum, kamu juga akan lebih irit, tabungan lebih banyak dong. Pilihlan transportasi umum yang aman, atau ingatlah untuk waktu terbaik untuk naik transportasi umum. Kalau pada pukul 2 pagi, pastinya itu tidak aman kan. Jadi cerdaslah dalam mengatur dan memilih waktu, jangan kelamaan di kantor, mentang-mentang internet gratis di kantor, betah aja ngantor sampai malam, jadinya kemalaman, besoknya malas bangun deh.
  16. Yang terakhir, wah sudah 16 nomor, ingatlah bahwa bekerja itu untuk kebaikanmu sendiri, mereka yang bekerja biasanya memiliki kualitas hidup yang lebih baik daripada mereka yang menganggur. Dengan bekerja pula, setiap pribadi akan menemukan eksistensi dirinya sendiri. Setiap manusia, apalagi jaman sekarang, rasanya perlu banget eksis. Dan yang terakhir, dengan bekerja, otak manusia itu sendiri akan terus terasah, pastinya tidak mau kan di usia belum tua-tua amat sudah pikun, karena kemarin-kemarin malas untuk berpikir. Dengan kita bekerja, pasti akan membuat kita berpikir tanpa kita sadari, maka marilah ke kantor untuk bekerja.

Oke, jadi itulah beberapa motivasi yang berhasil saya rangkum dari renungan saya malam ini. Semoga dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membaca, atau bisa ditambahkan jika berkenan. Selama saya masih perlu pergi ke kantor untuk bekerja (masih miskin, belum bisa memilih pekerjaan) rasanya saya perlu mencetak rangkuman saya ini dan menempelkannya di kamar saya, supaya saya dapat membacanya setiap hari sehingga selalu termotivasi dan tidak ada lagi rasa bersalah karena terlalu sering membolos. Pastinya saya berharap, ke depannya saya memiliki pekerjaan yang benar-benar saya sukai dan bisa saya lakukan dimanapun, tanpa saya harus pergi ke permanen kantor. Semoga suatu saat saya bisa memiliki kantor nomaden. Sekian dan terima kasih.

Minggu, 24 Agustus 2014

Yuks Mari Merangkai Kata

Apakah alasannya saya ingin menjadi penulis? Tiba-tiba saja muncul suatu ide untuk mencoba merangkum apa alasan saya tiba-tiba ingin menjadi penulis, berikut alasan-alasan yang berhasil saya rangkum,
  1. Sebagai seorang insomniac, pikiran saya ini rasanya aktif sekali. Bergerak selalu, berpikir selalu, rasanya ada begitu banyak unek-unek yang butuh untuk dituangkan menjadi suatu karangan. Mungkin dengan menuangkan semua yang ada di pikiran ke dalam karangan dapat menyembuhkan insomnia saya. Mungkin insomnia saya ini memang timbul karena kebanyakan berpikir sebelum tidur, jadi memang dibutuhkan suatu sarana untuk menuangkannya. Ya itu harapan saya memang, ada suatu metode untuk menyembuhkan insomnia saya, yang tiba-tiba saja terbersit untuk menjadi penulis. Memang saya tak muda lagi, tapi lebih baik terlambat daripada tidak mencoba sama sekali. Mulai sekarang, saya akan belajar untuk menyusun apa yang di otak saya, apapun itu untuk menjadi suatu kalimat yang baik. Semoga dengan ini semua, setidaknya kegelisahan yang menjadi sumber insomnia dapat tersalurkan. 
  2. Yang kedua, rasanya jadi penulis itu enak. Bisa bekerja tanpa terikat ruang dan waktu. Bisa dilakukan dimanapun, tanpa harus tergopoh-gopoh menuju kantor. Apalagi dengan runyamnya lalu lintas di Jakarta, otomatis ke kantor itu perjuangan sekali. Kesiangan dikit telat deh nyampe kantor, padahal kalau datang pagi, kantornya masih sepi. Derita kerja di Jakarta. Lalu menulis dapat dilakukan kapanpun kita mau, jam berapapun itu, mau pagi, siang, sore, malam, bahkan subuh sekalipun. Hanya butuh laptop, bahkan tablet pun bisa, tinggal ditambah dengan wireless keyboard, jadi deh tablet berasa laptop. Mentok-mentoknya kalau tidak ada alat elektronik tadi, ya tinggal pakai kertas dan pulpen, kembali ke masa sebelum ada gadget. Asal ada niat, apapun bisa. Cuma kalau saya pake cara tradisional itu, rasanya kecepatan saya menulis kalah jauh dengan kecepatan kata-kata berdatangan di otak, tangan saya kalah sama otak saya.
  3. Yang ketiga, dikarenakan jadi penulis itu tidak terikat ruang dan waktu, otomatis ini cocok sekali dengan saya yang insomniac. Sebagai insomniac itu benar-benar rasanya tergopoh-gopoh kalau bekerja di kantor. Secara pekerjaan kantoran saya saat ini, sangat terikat ruang dan waktu. Ada jam kerjanya, ada gedung kantornya, ada mesin absennya, jadi saya wajib datang ke kantor dengan jam kerja yang telah ditentukan. Telat atau ga masuk, potong gaji, lama-lama potong leher, saking seringnya bolos gara-gara insomnia, gaji nihil, koit deh ga bisa makan. Baru-baru ini saja, saya sudah bolos 3 hari berturut-turut, gara-gara insom saya, lelah, sangat lelah. Lha kok jadi melow.. Hehe.. Makanya pingin banget bisa jadi writer full timer, tapi ga mungkin sekarang, masih pemula, masih perlu banyak belajar, masih tetap perlu pekerjaan utama disamping penulis, yang untuk saat ini hanya jadi kerjaan sampingan yang bahkan belum menghasilkan uang.. Haha.. Saya masih perlu gaji untuk bayar kebutuhan hidup. Kenapa kebutuhan hidup ini kian hari makin mahal saja.. Ahh ga boleh melow lagi.. Hehe.. Jadi ya saat ini yang bisa saya lakukan adalah belajar mendisiplinkan diri, tidur di jam tidur, dan bangun di pagi hari, jangan molor kesiangan, karena kalau tidur molor kesiangan itu membuat malam susah tidur. Mesti pas waktu tidurnya. Walau susah karena pada dasarnya saya hobinya ngalong dan susah untuk berdisiplin, tapi ya mau tak mau. Ini tandanya saya masih miskin, orang miskin itu tak bisa membeli waktu, saya sedang dalam proses bisa membeli waktu. Semangat!
  4. Alasan selanjutnya mengapa saya ingin menjadi penulis adalah untuk terus menjaga supaya otak saya ini selalu berpikir, sehingga jauh dari penyakit orang tua seperti pikun. Menurut sumber-sumber yang saya baca, otak adalah bagian tubuh manusia yang istimewa, otak tidak mengenal penuaan. Namun otak akan menjadi tua, jika dibiarkan begitu saja, maksudnya untuk menjaga supaya otak tetap berfungsi optimal adalah dengan selalu membuatnya bekerja. Ibarat pisau yang semakin sering diasah semakin tajam begitu pula dengan otak manusia, semakin sering otak diajak bekerja semakin jauh otak dari penuaan. Dengan menjadi penulis, otomatis otak saya mau tidak mau harus terus bekerja, tidak mungkin saya menulis suatu karangan itu asal-asalan, kalimat yang tidak menyambung satu sama lain. Setidaknya otak saya ini akan menganalisa apakah kalimat-kalimat saya ini sudah tersusun dengan baik dan benar, dengan demikian otak saya akan selalu bekerja.
  5. Alasan terakhir saya ingin menjadi penulis adalah karena menjadi penulis itu tidak ada usia pensiun, lain halnya dengan pekerjaan kantoran, dimana terkadang seorang pekerja harus pensiun padahal kondisi pekerja itu masih memungkinkan untuk bekerja secara produktif. Dengan menjadi penulis saya bisa terus bekerja sampai umur berapapun saya mau, selama saya masih mampu, dan mempunyai ide-ide untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. 

Itulah beberapa alasan mengapa saya tiba-tiba ingin menjadi penulis, saya katakan tiba-tiba karena memang ini tidak pernah masuk dalam daftar cita-cita saya semasa kecil, tiba-tiba terbersit begitu saja. Yah terlepas apakah nanti saya menjadi penulis atau tidak, bagi saya tidak terlalu penting juga, saat ini yang ingin saya lakukan adalah belajar untuk mengarang lagi, menyusun semua kata-kata yang terlintas dalam pikiran saya ini menjadi tulisan yang bisa dipahami oleh semua orang. Belajar menuangkan apa yang ada di pikiran menjadi susunan kalimat yang menarik untuk dibaca, itu saja, dari yang sederhana dulu saja, belajar mengarang lagi. Menjadi anak sekolahan lagi dengan belajar mengarang. Saya jadi ingat dulu saya pernah disuruh mengirimkan karangan untuk ikut suatu perlombaan mengarang oleh ibu guru SD saya. Waktu itu hanya beberapa anak yang dipilih, mungkin ibu guru saya melihat dari kemampuan mengarang sehari-hari. Waktu itu saya membuat karangan tentang tanaman suplir, dikarenakan ibu saya yang suka sekali memelihara suplir. Saya bahkan membuat karangan itu dengan asal-asalan. Ternyata karangan saya masuk lima besar, dan saya diminta untuk membacakan karangan saya di depan kelas. Karena waktu itu saya membuat karangan dengan asal-asalan, saya tidak percaya diri untuk membacakannya di depan kelas, sehingga saya membacakannya dengan suara pelan, sampai ibu guru saya itu meminta saya untuk mengeraskan suara. Dan pada akhirnya karangan saya memang hanya mentok lima besar saja, dan waktu itu saya ingat bahwa saya lega sekali. Beuhh mungkin memang saya belum terpanggil jadi penulis ya waktu itu, sehingga tidak serius menekuni. Ya itulah sedikit kenangan saya, sekarang saatnya saya menatap realita, bahwa saya masih jauh dari penulis. Hmm kalau menilik kembali alasan-alasan saya mengapa ingin menjadi penulis, rasanya saya akan fokus pada membuat otak terus bekerja, itu saja, perkara nanti jadi penulis beneran atau tidak sih ya hanya waktu yang bisa menjawab. Oke, jadi inilah setidaknya alasan-alasan saya ingin menjadi penulis, mungkin jika kalian punya alasan lain bisa juga ditambahkan. Selamat menulis dan berkarya semua :)