Apakah alasannya saya ingin menjadi penulis? Tiba-tiba saja muncul suatu ide untuk mencoba merangkum apa alasan saya tiba-tiba ingin menjadi penulis, berikut alasan-alasan yang berhasil saya rangkum,
- Sebagai seorang insomniac, pikiran saya ini rasanya aktif sekali. Bergerak selalu, berpikir selalu, rasanya ada begitu banyak unek-unek yang butuh untuk dituangkan menjadi suatu karangan. Mungkin dengan menuangkan semua yang ada di pikiran ke dalam karangan dapat menyembuhkan insomnia saya. Mungkin insomnia saya ini memang timbul karena kebanyakan berpikir sebelum tidur, jadi memang dibutuhkan suatu sarana untuk menuangkannya. Ya itu harapan saya memang, ada suatu metode untuk menyembuhkan insomnia saya, yang tiba-tiba saja terbersit untuk menjadi penulis. Memang saya tak muda lagi, tapi lebih baik terlambat daripada tidak mencoba sama sekali. Mulai sekarang, saya akan belajar untuk menyusun apa yang di otak saya, apapun itu untuk menjadi suatu kalimat yang baik. Semoga dengan ini semua, setidaknya kegelisahan yang menjadi sumber insomnia dapat tersalurkan.
- Yang kedua, rasanya jadi penulis itu enak. Bisa bekerja tanpa terikat ruang dan waktu. Bisa dilakukan dimanapun, tanpa harus tergopoh-gopoh menuju kantor. Apalagi dengan runyamnya lalu lintas di Jakarta, otomatis ke kantor itu perjuangan sekali. Kesiangan dikit telat deh nyampe kantor, padahal kalau datang pagi, kantornya masih sepi. Derita kerja di Jakarta. Lalu menulis dapat dilakukan kapanpun kita mau, jam berapapun itu, mau pagi, siang, sore, malam, bahkan subuh sekalipun. Hanya butuh laptop, bahkan tablet pun bisa, tinggal ditambah dengan wireless keyboard, jadi deh tablet berasa laptop. Mentok-mentoknya kalau tidak ada alat elektronik tadi, ya tinggal pakai kertas dan pulpen, kembali ke masa sebelum ada gadget. Asal ada niat, apapun bisa. Cuma kalau saya pake cara tradisional itu, rasanya kecepatan saya menulis kalah jauh dengan kecepatan kata-kata berdatangan di otak, tangan saya kalah sama otak saya.
- Yang ketiga, dikarenakan jadi penulis itu tidak terikat ruang dan waktu, otomatis ini cocok sekali dengan saya yang insomniac. Sebagai insomniac itu benar-benar rasanya tergopoh-gopoh kalau bekerja di kantor. Secara pekerjaan kantoran saya saat ini, sangat terikat ruang dan waktu. Ada jam kerjanya, ada gedung kantornya, ada mesin absennya, jadi saya wajib datang ke kantor dengan jam kerja yang telah ditentukan. Telat atau ga masuk, potong gaji, lama-lama potong leher, saking seringnya bolos gara-gara insomnia, gaji nihil, koit deh ga bisa makan. Baru-baru ini saja, saya sudah bolos 3 hari berturut-turut, gara-gara insom saya, lelah, sangat lelah. Lha kok jadi melow.. Hehe.. Makanya pingin banget bisa jadi writer full timer, tapi ga mungkin sekarang, masih pemula, masih perlu banyak belajar, masih tetap perlu pekerjaan utama disamping penulis, yang untuk saat ini hanya jadi kerjaan sampingan yang bahkan belum menghasilkan uang.. Haha.. Saya masih perlu gaji untuk bayar kebutuhan hidup. Kenapa kebutuhan hidup ini kian hari makin mahal saja.. Ahh ga boleh melow lagi.. Hehe.. Jadi ya saat ini yang bisa saya lakukan adalah belajar mendisiplinkan diri, tidur di jam tidur, dan bangun di pagi hari, jangan molor kesiangan, karena kalau tidur molor kesiangan itu membuat malam susah tidur. Mesti pas waktu tidurnya. Walau susah karena pada dasarnya saya hobinya ngalong dan susah untuk berdisiplin, tapi ya mau tak mau. Ini tandanya saya masih miskin, orang miskin itu tak bisa membeli waktu, saya sedang dalam proses bisa membeli waktu. Semangat!
- Alasan selanjutnya mengapa saya ingin menjadi penulis adalah untuk terus menjaga supaya otak saya ini selalu berpikir, sehingga jauh dari penyakit orang tua seperti pikun. Menurut sumber-sumber yang saya baca, otak adalah bagian tubuh manusia yang istimewa, otak tidak mengenal penuaan. Namun otak akan menjadi tua, jika dibiarkan begitu saja, maksudnya untuk menjaga supaya otak tetap berfungsi optimal adalah dengan selalu membuatnya bekerja. Ibarat pisau yang semakin sering diasah semakin tajam begitu pula dengan otak manusia, semakin sering otak diajak bekerja semakin jauh otak dari penuaan. Dengan menjadi penulis, otomatis otak saya mau tidak mau harus terus bekerja, tidak mungkin saya menulis suatu karangan itu asal-asalan, kalimat yang tidak menyambung satu sama lain. Setidaknya otak saya ini akan menganalisa apakah kalimat-kalimat saya ini sudah tersusun dengan baik dan benar, dengan demikian otak saya akan selalu bekerja.
- Alasan terakhir saya ingin menjadi penulis adalah karena menjadi penulis itu tidak ada usia pensiun, lain halnya dengan pekerjaan kantoran, dimana terkadang seorang pekerja harus pensiun padahal kondisi pekerja itu masih memungkinkan untuk bekerja secara produktif. Dengan menjadi penulis saya bisa terus bekerja sampai umur berapapun saya mau, selama saya masih mampu, dan mempunyai ide-ide untuk dituangkan dalam bentuk tulisan.
Itulah beberapa alasan mengapa saya tiba-tiba ingin menjadi penulis, saya katakan tiba-tiba karena memang ini tidak pernah masuk dalam daftar cita-cita saya semasa kecil, tiba-tiba terbersit begitu saja. Yah terlepas apakah nanti saya menjadi penulis atau tidak, bagi saya tidak terlalu penting juga, saat ini yang ingin saya lakukan adalah belajar untuk mengarang lagi, menyusun semua kata-kata yang terlintas dalam pikiran saya ini menjadi tulisan yang bisa dipahami oleh semua orang. Belajar menuangkan apa yang ada di pikiran menjadi susunan kalimat yang menarik untuk dibaca, itu saja, dari yang sederhana dulu saja, belajar mengarang lagi. Menjadi anak sekolahan lagi dengan belajar mengarang. Saya jadi ingat dulu saya pernah disuruh mengirimkan karangan untuk ikut suatu perlombaan mengarang oleh ibu guru SD saya. Waktu itu hanya beberapa anak yang dipilih, mungkin ibu guru saya melihat dari kemampuan mengarang sehari-hari. Waktu itu saya membuat karangan tentang tanaman suplir, dikarenakan ibu saya yang suka sekali memelihara suplir. Saya bahkan membuat karangan itu dengan asal-asalan. Ternyata karangan saya masuk lima besar, dan saya diminta untuk membacakan karangan saya di depan kelas. Karena waktu itu saya membuat karangan dengan asal-asalan, saya tidak percaya diri untuk membacakannya di depan kelas, sehingga saya membacakannya dengan suara pelan, sampai ibu guru saya itu meminta saya untuk mengeraskan suara. Dan pada akhirnya karangan saya memang hanya mentok lima besar saja, dan waktu itu saya ingat bahwa saya lega sekali. Beuhh mungkin memang saya belum terpanggil jadi penulis ya waktu itu, sehingga tidak serius menekuni. Ya itulah sedikit kenangan saya, sekarang saatnya saya menatap realita, bahwa saya masih jauh dari penulis. Hmm kalau menilik kembali alasan-alasan saya mengapa ingin menjadi penulis, rasanya saya akan fokus pada membuat otak terus bekerja, itu saja, perkara nanti jadi penulis beneran atau tidak sih ya hanya waktu yang bisa menjawab. Oke, jadi inilah setidaknya alasan-alasan saya ingin menjadi penulis, mungkin jika kalian punya alasan lain bisa juga ditambahkan. Selamat menulis dan berkarya semua :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar